Ketika kucoba mengukir bait dari kata hatiku, kugoreskan kata demi kata untuk menciptanya. Taukah kau kekasihku, betapa saat ini aku merindumu? ingin sekali jiwaku ini menyapamu yang jauh kini, memeluknya, mendekapnya dan enggan melepasnya…, agar hilang rasa perih hatiku karena sembilu rinduku ini, maaf pabila sejuta kataku telah melukai hati lembutmu dahulu, bukan niatku tuk melukai indah kasih yang kau berikan, namun sayangku dan takutku akan hilangmu membuatku bertindak bodoh dan naif, seandainya kita dapat berkata dari hati yang terdalam, mungkin kau kan mendengarkan isi hatiku ini, keterbukaan jiwa tanpa noda kebohongan, tiada hal lain yang kuharap selain menjadikanmu satu dihatiku karena aku begitu menyayangimu.
Jiwa ini kan terkoyak perih saat diam mu bisu menjadikan praduga di hatiku, adakah kau tetap setia menjadi kasih dihatiku? Ataukah ada cinta lain dihatimu? Entahlah aku takut untuk menjawabnya, karena ku takut melukai hatiku dan hatimu, detik ini inginku mengucapkan sejuta sayangku padamu, biarkan malam menjadi saksi kesucian jalinan ini dan kau tetap menjadi satu dihatiku kini, seandainya terhenti sedetik waktu berjalan, ingin ku terdiam hanya denganmu dalam hembusan angin malam, ketikaku mendekapmu diantara hempasan rindu melandaku, harapku tetaplah menjadi cinta sejatiku, genggam tangan ini ketika sendiri melandamu, impikanku ketika merindumu akan ku menerpamu…
Kekasihku.., ketika pergimu dari hidupku, jingga-jingga merah dalam kalbuku telah memudar, berganti pekat diantara butiran salju menggunung, bersama dinginnya kucoba merangkai bayang indah dalam anganku dan memetiknya dari mimpi-mimpiku, dialah kasih yang tak tampak, senjapun memudar ketika kusapanya kembali jingga di kejauhan, padanya kutitipkan sejuta kisah laraku, ketika penantian kasih menghadirkan luka dan rambulan tetap menjadi sejati temanku, mendengarkan segala keluh yang kuucap,menjadi saksi bisu ketika menangisku tanpa airmata, bintang menghilang dibarisan awan hitam.
Kasih itu pergi meninggalkan ku dalam kehampaan jiwa, hanya jingga dan sekuntum mawar yang kini kugenggam menemaniku dalam sendiriku, menyapa hari yang sunyi, ” Kekasihku… dengarlah gemericik air di dasar telaga yang gelap, ia terus mengalir dalam kegelapan dengan kepastian hidup, namun tidak bagi diriku, aku melangkah tanpa mengerti arah tujuanku, penantianku, kegembiraanku, canda-tawaku, telah terkubur bersama pergimu meninggalkan kehampaan dihatiku, dengarlah setiap detak rindu yang menghujam kalbuku.., pandanglah pancaran mata redup tanpa cahaya, kepedihanku, airmataku, juga kecewaku, mengelilingiku laksana angin-angin pengab yang mencekik dalam kehidupanku, sentuhlah sayap-sayap kasihku yang terluka, yang dahulu membuatku melambung tinggi mengitari jingga indah diangkasa, kini ia hanya dapat menemaniku dalam duka.
Kekasihku… kerinduan ini begitu memberiku kepedihan, membuatku laksana anak kijang terluka dan mengharapkan induknya bersamanya, namun disekelilingnya hanya ada kegelapan dan lolongan serigala lapar dikejauhan. Dapatkah ku terus bertahan tanpa kekuatan anugerah cinta dalam hidupku?.
Kekasihku… malam telah datang untuk melelapkan bising dunia dengan segala ego mereka, tetapi tidak bagiku, luka diantara sayap-sayap kasihku terus memberikan rasa pedih hingga membuatku terus terjaga dari lelap yang melenakan.
Tidak… tidak kekasihku jangan kau hiraukan segala keluhku, biarlah aku tenggelam dalam duka dan kekecewaanku ini, sampai masanya desah ini terhenti, dan mengakhiri penantian yang penuh dengan penderitaan ini, untuk mengantarkanku kembali merangkulmu dalam keabadian kasih.
#Surat Kekasih #
05/03/10
Man aja