Terluka Lagi

Menatap bintang di gelap malam

Akupun termenung…

Dalam kesendirianku

Terpejam mataku, melayang jiwaku

Memilah lembar-lembar masa hilang

waktu merangkak,

Meninggalkan yang terbuai

Di sana aku berharap, di sini aku muak

Begitu banyak luka menganga

Merobek hati..

Perih dan menyesakkan

Telah habis airmataku, kering

selamanya.

Dipublikasi di Puisi | Tinggalkan Komentar

# Ketika #

Malam…
Jingga kehidupan telah menghilang
Memaksa ragaku merangkak dalam kegelapan
Mencari pelita yang mungkin kutemukan

Malam
Sudah lelah hatiku tersakiti
Menahan luka yang kubebani
Menggenggamnya telapakku
Bergetar Perih

Malam…
Entah berapa waktu ku lewati bersamamu
Namun aku tetap begitu merindumu
Merindu kebersamaan kita
Dahulu….

# Ketika #

Dipublikasi di Puisi | Tinggalkan Komentar

# Suatu Ketika #

Senja…
Suatu ketikanya
Angin berhembus merasuk kedalam ari
Berselimut keresahan hati nan sendiri

Gerimis tlah berganti Hujan..
Basahi sekeliling tanah kupijak
Menciptakan gemericik
Nan suaranya bersesak masuk ke telinga

Detik merangkak lamban
Menikmati dingin, aku tanpa sadar
Malam telah datang menyapa
Dan aku melangkah hilang.. dalam hujan

# Suatu Ketika #
08/07/10
Man aja

Dipublikasi di Puisi | 1 Komentar

Terluka dalam

Hati bagaikan tertancap belati,
menikamnya dan mengkoyaknya hatiku
Terluka dalam dan begitu menyakitkan…
18 purnama kebersamaan, tiba dimana masa kepedihan
Ketika keputusan akhir adalah goresan luka baru dihatiku
Goresan luka untuk kasih dan cintaku…
Ketika tersadarku ada cinta lain yang merangkul hatimu
Dan mncampakkan hatiku terluka…
Ku hanya berucap doa untuk bahagiamu…
Dan ketikanya hatiku harus meringis dalam pilu dan ngilu
Tersadarku takdirmu telah habis denganku…
Dan kau telah jauh melangkah meninggalkanku
Ketikanya kini aku hanya sendiri dan terkapar sepi
Sedikit mengenangmu bagaikan mengukir luka dalam hatiku
Dan kini ku tetap melangkah dalam duka dan rapuh hatiku..

# Terluka Dalam #
02/09/08 Man aja

Dipublikasi di Puisi | Tinggalkan Komentar

Terendap Laraku

Kekasihku… dengarlah gemericik air di dasar telaga yang gelap,
ia terus mengalir dalam kegelapan dengan kepastian hidup,

namun tidak bagi diriku,
aku melangkah tanpa mengerti arah tujuanku,

penantianku,
kegembiraanku,
canda-tawaku,

telah terkubur bersama pergimu meninggalkan kehampaan dihatiku,
dengarlah setiap detak rindu yang menghujam kalbuku..,
pandanglah pancaran mata redup tanpa cahaya,

kepedihanku,
airmataku,
juga kecewaku,

Mereka mengelilingiku laksana angin-angin pengab yang mencekik dalam kehidupanku,
sentuhlah sayap-sayap kasihku yang terluka,
yang dahulu membuatku melambung tinggi mengitari jingga indah diangkasa,

kini ia hanya dapat menemaniku dalam duka
Bercengkrama bersama lara jiwa..

# Terendap Laraku #
18/03/10
Man aja

Dipublikasi di Puisi | Tinggalkan Komentar

Untaian Kata Hati II

Jiwa ini kan terkoyak perih saat diam mu membisu menjadikan praduga di hatiku,
adakah kau tetap setia menjadi kasih dihatiku?
Ataukah ada cinta lain dihatimu?

Entahlah aku takut untuk menjawabnya,
karena ku takut melukai hatiku dan juga hatimu,
detik ini inginku mengucapkan sejuta sayangku padamu,

biarkan malam menjadi saksi kesucian jalinan ini dan kau tetap menjadi satu dihatiku kini, seandainya terhenti waktu berjalan,
ingin ku terdiam hanya denganmu dalam hembusan angin malam,
ketikaku mendekapmu diantara hempasan rindu melandaku,

harapku tetaplah menjadi cinta sejatiku,
genggam tangan ini ketika sendiri melandamu,
impikanku ketika merindumu akan ku menerpamu…

# Untaian Kata Hati II #
15/03/10
Man aja

Dipublikasi di Puisi | Tinggalkan Komentar

Untaian Kata Hati

Ketika kucoba mengukir bait dari kata hatiku, menggoreskannya kata demi kata untuk menciptanya.

Taukah kau kekasihku? betapa saat ini aku begitu merindumu, mengharapkanmu disampingku? ingin sekali jiwaku ini menyapamu yang jauh kini, memeluknya, mendekapnya dan enggan melepasnya…

agar hilang rasa perih hatiku karena sembilu rinduku ini, maaf pabila sejuta khilafku telah melukai hati lembutmu dahulu, bukan niatku tuk melukai indah kasih yang kau berikan,

namun…. sayangku dan takutku akan hilangmu membuatku bertindak bodoh dan naif, seandainya kita dapat berkata dari hati yang terdalam, mungkin kau kan mendengarkan isi hatiku ini

keterbukaan jiwa tanpa noda kebohongan, tiada hal lain yang kuharap selain menjadikanmu satu dihatiku, karena aku begitu menyayangimu.

# Untaian kata Hati #
15/03/10
Man aja

Dipublikasi di Puisi | Tinggalkan Komentar

Surat kekasih

Ketika kucoba mengukir bait dari kata hatiku, kugoreskan kata demi kata untuk menciptanya. Taukah kau kekasihku, betapa saat ini aku merindumu? ingin sekali jiwaku ini menyapamu yang jauh kini, memeluknya, mendekapnya dan enggan melepasnya…, agar hilang rasa perih hatiku karena sembilu rinduku ini, maaf pabila sejuta kataku telah melukai hati lembutmu dahulu, bukan niatku tuk melukai indah kasih yang kau berikan, namun sayangku dan takutku akan hilangmu membuatku bertindak bodoh dan naif, seandainya kita dapat berkata dari hati yang terdalam, mungkin kau kan mendengarkan isi hatiku ini, keterbukaan jiwa tanpa noda kebohongan, tiada hal lain yang kuharap selain menjadikanmu satu dihatiku karena aku begitu menyayangimu.

Jiwa ini kan terkoyak perih saat diam mu bisu menjadikan praduga di hatiku, adakah kau tetap setia menjadi kasih dihatiku? Ataukah ada cinta lain dihatimu? Entahlah aku takut untuk menjawabnya, karena ku takut melukai hatiku dan hatimu, detik ini inginku mengucapkan sejuta sayangku padamu, biarkan malam menjadi saksi kesucian jalinan ini dan kau tetap menjadi satu dihatiku kini, seandainya terhenti sedetik waktu berjalan, ingin ku terdiam hanya denganmu dalam hembusan angin malam, ketikaku mendekapmu diantara hempasan rindu melandaku, harapku tetaplah menjadi cinta sejatiku, genggam tangan ini ketika sendiri melandamu, impikanku ketika merindumu akan ku menerpamu…

Kekasihku.., ketika pergimu dari hidupku, jingga-jingga merah dalam kalbuku telah memudar, berganti pekat diantara butiran salju menggunung, bersama dinginnya kucoba merangkai bayang indah dalam anganku dan memetiknya dari mimpi-mimpiku, dialah kasih yang tak tampak, senjapun memudar ketika kusapanya kembali jingga di kejauhan, padanya kutitipkan sejuta kisah laraku, ketika penantian kasih menghadirkan luka dan rambulan tetap menjadi sejati temanku, mendengarkan segala keluh yang kuucap,menjadi saksi bisu ketika menangisku tanpa airmata, bintang menghilang dibarisan awan hitam.

Kasih itu pergi meninggalkan ku dalam kehampaan jiwa, hanya jingga dan sekuntum mawar yang kini kugenggam menemaniku dalam sendiriku, menyapa hari yang sunyi, ” Kekasihku… dengarlah gemericik air di dasar telaga yang gelap, ia terus mengalir dalam kegelapan dengan kepastian hidup, namun tidak bagi diriku, aku melangkah tanpa mengerti arah tujuanku, penantianku, kegembiraanku, canda-tawaku, telah terkubur bersama pergimu meninggalkan kehampaan dihatiku, dengarlah setiap detak rindu yang menghujam kalbuku.., pandanglah pancaran mata redup tanpa cahaya, kepedihanku, airmataku, juga kecewaku, mengelilingiku laksana angin-angin pengab yang mencekik dalam kehidupanku, sentuhlah sayap-sayap kasihku yang terluka, yang dahulu membuatku melambung tinggi mengitari jingga indah diangkasa, kini ia hanya dapat menemaniku dalam duka.

Kekasihku… kerinduan ini begitu memberiku kepedihan, membuatku laksana anak kijang terluka dan mengharapkan induknya bersamanya, namun disekelilingnya hanya ada kegelapan dan lolongan serigala lapar dikejauhan. Dapatkah ku terus bertahan tanpa kekuatan anugerah cinta dalam hidupku?.

Kekasihku… malam telah datang untuk melelapkan bising dunia dengan segala ego mereka, tetapi tidak bagiku, luka diantara sayap-sayap kasihku terus memberikan rasa pedih hingga membuatku terus terjaga dari lelap yang melenakan.

Tidak… tidak kekasihku jangan kau hiraukan segala keluhku, biarlah aku tenggelam dalam duka dan kekecewaanku ini, sampai masanya desah ini terhenti, dan mengakhiri penantian yang penuh dengan penderitaan ini, untuk mengantarkanku kembali merangkulmu dalam keabadian kasih.

#Surat Kekasih #

05/03/10

Man aja


Dipublikasi di Puisi | Tinggalkan Komentar

Toek Sahabatku

Sahabatku…awan kelabu mengitari untaian kepedihan langit jiwa yang berduka, memaksa ku untuk terdiam dalam kesedihan, kau sahabatku.. dalam keheningan hatimu aku terduduk dan terpaku, dalam padang penuh ilalang aku terus mengais makna sepi yang menjadikanmu terdiam, dengarkanlah sahabatku…dekap kecewaku ketika kepergianmu hanya menyisahkan kenangan dalam dunia bayangan fikiranku dan ruang kosong di hatiku, kepergianmu juga menyisahkan getar yang menghentakkan jiwaku ini.

Wahai sahabatku kini kau telah mengarungi perjalanan panjang untuk menemukan keabadian surgawi yang telah di janjikan kepada hamba-hambaNya dan kebahagiaan yang tiada batas bagi hamba-hambaNya, namun sahabatku kau telah meninggalkan kerinduan di hatiku ini, kerinduan untuk menatap bintang-bintang kala malam bersamamu dan kerinduan untuk mendengar suaramu diantara bait-bait puisi yang kau ucapkan.

Sahabatku…dalam tumpahan tintaku ini ku ungkapkan makna kesedihan hatiku, dengan kata-kata ini ku coba melepaskan kepergianmu bersama lambaian keiklasan hatiku, bersama bait-bait ini kutaburkan bunga kerinduanku juga untaian doa ku.

Maafkan ku duhai sahabatku, jika airmata ini terus mengalir menjadikan kepedihan hatimu karenaku, maafkan ku sahabatku jika airmata ini terjatuh menjadikan ganjalan kepergianmu, maafkan ku sahabatku jika airmata ini terberai membuatmu terus merindukanku, maafkan ku sahabatku…teramat berat duka hatiku ini dan terlalu rapuh jiwa ini untuk memikul kepedihan yang kini kurasakan.

Damailah engkau wahai sahabatku, damailah bersama indah yang selama ini kau impikan, tersenyumlah sahabatku, tersenyumlah dalam taman surgawi nan diciptakanNya untukmu, dan berjanjilah sahabatku, kita akan dipertemukan kembali bersama jiwa-jiwa yang digenggamNya dalam rangkulan kebersamaan di masa lalu, sekarang dan yang akan datang, dalam keabadian persahabatan….

# Toek Sahabatku #

05/03/10
Man aja

Dipublikasi di Puisi | 1 Komentar

Duka Hati

Waktu terus berulang dalam hari bersama detik-detik yang berbeda, ketika kudengar kicauan burung di pagi hari, sinar mentari menyilaukan mata, hah…entah apa untuk hari ini.

Ada suatu kerinduan yang menyayat dihatiku, keinginan, kehampaan, dan ungkapan yang tak terucap, detak ini begitu menyakitkan serasa mengoyak jiwa dan menjadi sembilu tajam dalam hari-hariku, kekecewaan yang berkepanjangan merasuki pembuluh nadi bersama sepi.

Rasa haus akan kasih telah menenggelamkanku pada satu titik kenelangsaan yang pekat kerinduanku akannya membuatku mengimpikannya dalam malam.

Kini tiada tangis, tiada airmata, hanya satu sosok dengan jiwa peka yang tabah dalam luka.

# Duka Hati #
01/03/10
Man aja

Dipublikasi di Puisi | Tinggalkan Komentar